Foto: Disiplin Siswa Saat Mengantre Makan di Sekolah
Oleh: Muchlisan Putra (ukis_sigli)
Guru Sekolah Sukma
Bangsa Pidie
Suatu waktu –kalau
tidak salah di tahun 2015 silam dalam sebuah pelatihan yang digelar di salah
satu hotel di Kabupaten Pidie– saya terkaget dengan disiplin waktu yang dilakoni
oleh panitia pelatihan tersebut. Betapa tidak, saya dan beberapa teman yang
berasal dari Sekolah Sukma Bangsa Pidie saat itu datang paling awal. Kami merasa
dirugikan karena “ngaret” alias molornya acara setingkat kabupaten tersebut. Ternyata
bukan kali itu saja, pengalaman molornya waktu dalam mengikuti
kegiatan-kegiatan yang digelar juga terulang dalam moment yang sama, namun yang
ini celakanya diselenggarakan di tingkat provinsi. Bayangkan saja, praktis
hampir dua jam kami harus menunggu untuk dimulainya sebuah acara, hiks…hiks... L. Namun, yang lebih
membuat hati kami sesak adalah ketika panitia dengan tanpa merasa bersalah
mengatakan agar kami tetap bersabar karena ini sudah menjadi kebiasaan kita di
Aceh. “Istilahnya Jam ureung Aceh,” katanya sambil mencoba menenangkan suasana.
Agak miris
memang budaya disiplin di Aceh. Kita patut malu dengan budaya disiplin ini. Tak
usah jauh, katakanlah Jogyakarta, mereka sangat menghargai waktu. Saya pernah
melakukan program pertukaran guru di Sekolah Budi Mulia Dua di Jogyakarta, saya
melihat penghargaan mereka terhadap waktu sangat luar biasa. Sampai-sampai saat
itu kami hampir saja terbawa budaya Aceh saat dalam sebuah pertemuan yang
diselenggarakan oleh Universitas Gajah Mada di sekolah tersebut yang
dijadwalkan pukul 08.00, meskipun kami peserta dari Aceh hadir pukul 08.00
tepat dan berharap kami adalah peserta pertama yang hadir, namun ternyata kami
adalah rombongan terakhir yang ditunggu, mereka–peserta yang lain–sudah tiba sejak pukul 07.30. ini meupakan budaya
yang luar biasa. Tak berlebihan memang sebuah pepatah mengatakan ‘jika Anda datang tepat waktu, kemungkinan
terburuk yang bisa terjadi adalah Anda akan terlambat. Namun jika Anda datang
lebih awal, Anda bisa datang tepat waktu. Tetapi jika Anda terlambat, sudah
pasti Anda akan ketinggalan.’
Budaya Disiplin di Jepang
Sebuah situs dengan
alamat www.brilio.net menampilkan beberapa
hal sepele yang dilakukan orang Jepang terkait budaya disiplin mereka
diantaranya: (1) Untuk mengantre di salah satu stasiun kereta mereka dengan
tertib mengantre sampai mengular panjang. Kerennya lagi jarak antara antrean
orang satu dan yang lainnya berjarak lebih kurang satu meter. Ini menunjukkan
mereka tidak ingin membuat kesusahan orang lain dengan berimpitan. (2) Masyarakat
di Jepang memiliki budaya selalu menghabiskan makanannya, sehingga mereka
mengambil sesuai porsi yang dibutuhkan, jadi wajar jika kita melihat porsi
makanan di Jepang kecil-kecil, itu tentu sangat berbeda dengan budaya makan
masyarakat kita, apalagi di Aceh, hehehe… (3) Kedisiplinan mereka sudah
tertanam sejak kecil, itu ditunjukkan dengan sebuah foto yang menampilkan anak-anak
di Jepang meskipun dalam kondisi hujan di jalanan, mereka tetap menunggu lampu
lalu lintas hijau untuk menyeberang. (4) Untuk memberi kesempatan bagi mereka
yang buru-buru, di eskalator, mereka akan rapi berbaris di sebelah kiri dan
menyisakan ruang di sebelah kanan sebagai jalur cepat.
Belajar dari Pepatah
“Jika guru kencing
berdiri, maka murid kencing berlari”, pepatah kontroversial ini memang menarik
untuk dijadikan cemeti sebagai autokritik bagi kita guru agar berhati-hati
dalam bertindak dan bertingkah laku di depan siswa. Sudah menjadi kebiasaan
yang muda biasanya mencontoh yang tua, anak-anak mencontoh orang tuanya, siswa
mencontoh gurunya.
Selain itu, pepatah
lain yang juga sangat menarik untuk kita jadikan referensi dalam menularkan
disiplin kepada siswa adalah “Satu teladan lebih baik daripada seribu nasihat”,
seorang guru yang menceramahi siswanya berkoar-koar tentang bahaya rokok
sedangkan sang guru adalah perokok aktif tentu tidak efektif menyadarkan siswa dibanding
guru yang memberi teladan dengan tidak merokok. Di Sekolah Sukma Bangsa Pidie dalam
sebuah gotong royong (kami menyebutnya GPS/ Gerakan Pungut sampah) kami,
guru-guru selalu menjadi yang terdepan dalam bekerja. Tak ada perintah, tak
perlu aba-aba, tak perlu berkoar-koar, kita hanya butuh sedikit kemauan dan
tentunya capek untuk memulai dan ikut terlibat dalam kegiatan tersebut sehingga
siswa kita yang melihat gurunya sudah memulai akan malu jika hanya
berdiri-berdiri saja.
Ramadhan Membentuk Budaya Disiplin
Ramadhan
mengajarkan kita kedisiplinan. Betapa tidak, ketika berada di depan makanan
yang super banyak dan enak itu, maka jika belum tiba waktu berbuka, kita tidak
bisa berbuat apa-apa terhadap makanan itu. Selain itu, waktu sahur juga
mengajarkan kita arti disiplin. Kita tidak boleh memakan apapun lagi jika waktu
imsak telah tiba. Ini sungguh luar biasa.
Ramadhan sebentar lagi akan meninggalkan kita.
Mampukah kita menularkan budaya disiplin ramadhan ini pada generasi muda kita
di sekolah? Terutama disiplin waktu. Sebagai seorang guru atau tenaga pendidik,
kita mutlak harus memberikan tauladan/ role
model untuk siswa kita di sekolah. Caranya adalah dengan membiasakan dari
hal-hal kecil diantaranya: Hadir tepat waktu ke sekolah, Tidak membiasakan
memulai kegiatan dengan waktu yang molor, Mengajarkan antrean pada siswa,
Membuang sampah pada tempatnya dan lain sebagainya. Tentu semua itu harus
dimulai dari diri seorang guru terlebih dahulu. Aa Gym, ulama kharismatik dari
Bandung, mengungkap tiga hal penting untuk kita renungkan jika kita ingin
menjadi pribadi yang utama, yakni (1) mulailah dari diri sendiri, (2) mulailah
dari yang paling kecil, dan (3) mulailah saat ini juga. Semoga Ramadhan kali
ini membawa dampak besar bagi kedisiplinan siswa kita nanti pasca-Ramadhan. Aamiin!